Google

Wednesday, May 20, 2009

MENULIS PTK SENIKMAT MINUM TEH

Manfaatkan Kegiatan Mengasyikan Ber-PTK & Raihlah Menjadi Saat Penuh Makna. Raih Pena dan Lakukan!
Ditulis dengan gaya dialogis, sehingga jika dibaca kesan buku teks tidak ada, memang disajikan untuk tidak memberatkan kerja otak. Apalagi melihat judulnya, orang serasa diprovokasi. Coba selagi kita berusaha membandingkan baca komik dengan buku yang terkesan menyebalkan, misalnya buku metodologi penelitian atau statistik.
Berangkat dari pengalaman yang menjadi amatan Dr. Sutirjo, MPd, bahwa guru merasa phobi terhadap penelitian, maka dilahirkan buku ini. Menurut Sutirjo, sebenarnya jika dicermati banyak guru kita dan mungkin hampir semua guru telah melakukannya, namun tidak mengetahui cara mendokumentasikannya.
Jembatan telah dibuat oleh Sutirjo, guru tidak boleh takut dengan apa yang disebut penelitian, penelitian itu mudah bin gampang ibarat senikmat minum teh.
Gaya "aku" tampaknya juga mendominasi isi buku ini, sehingga terkesan orang sedang mengalami sendiri. Untuk mempermudah buku ini juga memberikan contoh-contoh, bahkan hampir pembahasan disertakan kata yang memotivasi.
Buku ini sangat cocok untuk guru, bukan hanya subtansi penelitian yang sudah tersimplikasi, namun juga kata - kata yang memotivasi, sehingga guru hilang dari phobi dan siap meneliti.
GERUS RASA TAKUT ITU.
Bab I buku ini menghidangkan sajian penyadaran, bahwa PTK itu mudah,
...Sehingga sikap yang diulakukan adalah galakkan budaya menulis dan meneliti sejak dini. Timbulkan motivasi. Jangan patahkan semangat. Permudahlan. Menulis dan Meneliti itu mudah! PTK itu menyenangkan! Tulislah ! jangan dipersuilit dan ditakut takuti! Pompakan semngat bahwa hidup adalah sebuah anugerah besar untuk berkarya. Hidup adalah tindakan! Hidup adalah lakukan!
PTK YANG "LUNAMAYA" (MENURUT BUKU INI PTK HARUS SEKSI, MENGGIGIT, DAN ORISINAL)
Membuat judul ternyata tidak sulit, ya...seperti minum teh. Namun jangan lupa perhatikan hal sebagai berikut:
  1. Pilihlah kata jelas, lugas, tepat, spesifik, dan berisi beberapa kata kunci
  2. Di dalam judul sudah mengandung masalah yang akan diteliti, tindakan yang akan dilakukan untuk menutaskan masalh, hasil yang diharapkan, subyek dan lokasi penelitian
  3. Minimal memiliki m,akna inovatif, pengembangan, atau memiliki nafas "kebaharuan" atau original
FOKUS KAJIAN
Secara garis besar judul penelitian tindakan kelas itu dapat dipilah dalam beberapa fokus kajian, tentunya agar PTK kita itu snikmat menum terh, maka harusememperhatikan kajian berikut:
  1. motivasi
  2. hasil belajar
  3. kualitas pembelajaran
  4. pemahaman /konsep
  5. ketrampilan/kemampuan [menulis, membaca, menyimak, berbicara]
  6. efektivitas model/metode/strategi/pendekatan/sumber belajar
PTK DAN PENGELOLAAN KELAS
Tahukah anda, bahwa PTK yang terkait dengan pengelolaan kelas belajar mengajar dilakukan dalam rangka:
meningkatkan kualitas pembelajaran
meningkatkan peran serta kerjasama siswa dalam pembelajaran
realisasi pendekatan, startegi, model pembelajaran yang kreatif inovatif
kerja sama guru tumpun bidang studi/lintas bidang studi atau pihak lain.
[maaf.....tentunya tidak saya ungkap tuntas, karena dapat dipidanakan!!!!]
Data buku
JUDUL: Menulis PTK Senikmat Minum Teh
PENULIS: Dr. Sutirjo, MPd
PENERBIT: Universitas Negeri Malang [UM Press]. Jl. Surabaya 6, [Jln.Gombong 1] Malang, Kode Pos 65145. Kotak Pos 13,MLG/IKIP. Telepon 0341-553959. E-mail: penerbit@malang.ac.id
ISBN: 979-907-053-8
TEBAL: viii + 214 halaman; 20 cm
CETAKAN : 1- 2008

Tuesday, March 17, 2009

SPIRITUAL TEACHING-ABDULLAH MUNIR

Ambisi sehat buku ini adalah sebuah keinginan agar guru senantisa mencitai pekerjaan dan anak didiknya, tentunya dengan tulus dan ikhlas. Dengan cermatnya, buku ini menawarkan sebuah trobosan baru sebagai upaya cerdas dalam mempercantik pendidikan di bumi pertiwi ini. Kandungan buku ini memiliki kadar penguatan yang kuat agar jati diri guru itu termanifestasikan pada peran profesinya.. Melalui penguatan kepribadaiaan diharapkan sanggup memberikan urunan dalam membentuk profesionalisme yang "tanggap, tangguh dan terginas". Penguatan kepribadian yang dimaksud buku ini adalah, bagaimana seorang-orang guru dalam menjalankan profesinya selalu memberikan sentuhan cinta kasih dan mengembangkan cinta kasih itu diladang nurani siswa.
Diharapkan kepada siapa saja yang mengaku sebagai guru sejati, membaca buku ini, karena melalui buku ini akan ditemukan hakikat mengajar, bahkan akan memperoleh ellan vital baru dalam bentuk semangat berprofesi. Buku ini mampu menghalau kehampaan dalam laku profesi, dan citra diri guru dipastikan terbangun sehingga mampu menghatarkan siswa ke ranah bahagia.
Data buku
JUDUL: Spiritual Teaching: Agar Guru Senantiasa Mencintai Pekerjaan dan Anka Didiknnya
PENULIS: Abdullah Munir
PENERBIT: Pustaka Insani Madani. Jl. Kenanga, Manguwohardjo, Depok Sleman Yogyakarta 55282. Telepon : 0274-4332394. E-mail: editorial@pustakainsanimadani.com
ISBN: 979-24-9866-4
TEBAL: xvi + 128; 15,5 x 23
CETAKAN: I- 2009

Friday, March 13, 2009

UBAH PERILAKU MENUJU RANAH “LESSON STUDY”

Buku yang diterbitkan oleh Balai Pengembangan pendidikan Nonformal dan Informal [BPPNFI] Regional IV Surabaya ini membentangkan sebuah kreasi solutif dari seorang-orang pendidik negeri sakura. Melalui keprihatinannya akan pendidikan di Jepang, dan keinginannya untuk menjadikan pendidikan lebih baik dan terhormat, Makoto Yoshida melahirkan buku ini, selanjutnya dibuat makalah seperti berikut:

PENGANTAR .

Lesson Study saat ini telah menyeruak di antero dunia, bahkan Indonesia termasuk negara yang ikut menggandrunginya, serta merta mengadopsi untuk peranti membangun profesi. Lesson Study sebenarnya adalah sebuah terminology yang berkembang di ranah pendidikan, dan pertama kali muncul ketika seorang-orang pakar pendidikan Jepang, Makoto Yoshida sedang merapungkan disertasinya di University of Chicago. Lesson study adalah sebuah terjemahan dari “yugyou kenkyuu”. Hingga kini sang maestro pendidikan Jepang ini dianggap sebagai pionir yang merintis penerapan lesson study di Amerika bersama professor pendidikan dari Milss College Oakland. Catherine Lewis. Bak gayung bersambut karena Catherine Lewis sebenarnya sangat tertarik, bahkan telah banyak melakukan penelitian tentang system pendidikan di Jepang. Pada perjalanannya Amerika pun mulai mengadopsi dan mencoba menerapkannya, namun pertama kehadirannya Lesson study mendapatkan getaran “pesimistis”. Tapi sekarang Lesson Study di Amerika mendapatkan tempat.

TUJUH MANFAAT [“7M”] DALAM PERBAIKAN KOMPETENSI PROFESIONAL


Pada hakikatnya Lesson Study lahir dari sebuah proses induktif dari realitas empiri persoalan-persoalan pendidikan, dan yang lebih mikro di ranah pembelajaran. Proses induktif itu terjadi di Jepang. Namun saat ini telah tertata difungsikan sebagai proses pengembangan untuk para guru, dan dikreasi secara sistematis, teristimewa tujuan utama menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih baik dan efektif
Melalui Lesson study akan direngkuh manfaat-manfaat sebagai berikut:


  1. Lesson Study Memicu Munculnya Motivasi untuk mengembangkan diri
  2. Lesson Study Melatih Pendidik “Mencermati” Peserta Didik
  3. Lesson Study Menjadikan Penelitian Sebagai Bagian Integral Pendidikan
  4. Lesson Study Membantu Penyebaran Inovasi dan Pendekatan Baru
  5. Lesson Study Menempatkan Para Pendidik pada Posisi Terhormat
  6. Lesson Study Memunculkan Knowledge Sharing
  7. Lesson Study Membangun hubungan kolegial dan Mutual Learning
TUJUH KENDALA PENERAPAN

Sesuatu yang baru acapkali mendatangkan celaan, apalagi ditopang oleh sebuah anggapan akan menggantikan yang lama. Sisi lain diperparah dengan kecenderungan enggan berubah “Anti Perubahan”. Realitas ini akan menjadi kendala penerapan Lesson Study. Adapun terdapat kendala-kendala itu adalah:

  1. Anggapan bahwa Lesson Study pemborosan waktu, karena aktivitas Lesson study selalu membutuhkan pengorbanan waktu bagi sang pendidik, bahkan harus rela untuk berlebih-lebihan. Intensitas diskusi yang kerap, juga Memerlukan siklus yang panjang dan banyak

  2. Lesson Study dianggap tidak relevan dengan budaya Indonesia yang cenderung permisif dan selalu menjujung kaidah harmonisasi ketimbang keterbukaan.

  3. Lesson Study dianggap memaksa pendidik mengubah gaya mengajar

  4. Merasa terawasi dan “risi” ketika dalam proses belajar mengajar dihadiri Observe

  5. Anggapan adanya pemaksaan, untuk mengubah gaya belajar

  6. Tututan pendokumentasian dianggap beban biaya tinggi [hight cost]

  7. Lesson study tidak cocok dilakukan pada pendidikan non formal, dan hanya cocok untuk pendidikan formal
TUJUH IDEALITAS YANG DIPERSYARATKAN:
Sebagai inovasi Lesson Study tidak serta merta mudah diterapkan, apa lagi langsung siap pakai [running well], namun harus mengikuti tahapan fisis dari nol derajat hingga seratus derajat. Oleh karenanya Lesson Study kerap kali di juluki sebagai bentuk CPD – Continuing Professional Development, dan menjunjung azas perbaikan terus menerus “Continues Improvement”.
Untuk mengemban pencapaian maka terdapat beberapa yang dianggap sebagai persyaratan, yakni persyaratan kondisi ideal.
1. Adanya Stabilitas Kebijakan Pendidikan
2. Dukungan Birokarsi Pendidikan
3. Kemampuan menerima perubahan
4. Kurikulum yang Memberi Ruang untuk berkembang
5. Budaya Refleksi Diri
6. Budaya Kerja Sama
7. Budaya pendokumentasian


TUJUH KUNCI PERUBAHAN TINGKAH LAKU:

Sejumlah unsur yang menjadi ciri perubahan tingkah laku seorang guru, menuju Lesson Studi:


  1. Tingkah laku dimotivasi : seorang-orang mau berbuat sesuatu karena adanya tujuan yang hendak dicapai. [seorang-orang guru harus memahami secara holistic hal ikhwal “lesson studi”, apa dan mengapa lesson studi]. Perubahan tingkah laku dimulai dari dalam organisme yang bermotivasi, dan keadaan ini muncul berkat kebutuhan pada organisme. [seorang-orang guru harus memahami, apa manfaat lesson studi]
  2. Tingkah laku yang bermotivasi adalah tingkah laku yang sedang terarah pada tujuan: Motivasi mengandung dua aspek yakni adaanya keadaan tegang [tension] atau ketakpuasan dalam diri seseorang dan kesadaran bahwa tujuan tercapainya tujuan akan mengurangi ketegangan tersebut. Ini berarti pencapai tujuan adalah pengurangan ketegangan dan pemuasan kebutuhan. [ditilik kelahirannya lesson studi hadir atas sebuah ketegangan dari keadaan pendidikan di Jepang, yang menginginkan pendidikan memiliki daya kompetitif mendunia].Makna terdalamnya Lesson studi tidak akan membumi jika tidak ada permasalahan yang dihadapi.
  3. Tujuan yang disadari oleh seorang-orang akan mempengaruhi tingkah laku di dalam upaya mencapai tujuan tersebut: Konsekuensinya ialah tingkah laku bersifat selektif dan regulative. Seorang-orang memilih perbuatan/tindakan yang hanya mengacu ke arah pencapaian tujuan yang dapat memuaskan kebutuhannya. [harus pararel antara individu seorang guru dalam memandang kebutuhan utamanya terkait dengan penerapan lesson studi, dengan tujuan sekolah. Jika tidak pararel maka, justru guru akan mengadi efek pencegah- deterrent effect]
  4. Lingkungan menyediakan kesempatan untuk bertingkah laku tertentu, dan/atau membatasi tingkah laku seorang-orang tertentu: Lingkungan sebagai situasi stimulus dalam satu sisi dapat memuaskan kebutuhan dan dalam sisi lain dapat membatasi pemuasan kebutuhan dengan cara tertentu. [Lesson study membutuhkan lingkungan yang kondusif, dukungan birokrasi pendidikan yang signifikan adalah pemicu potensi sukses. Lesson studi berhasil dengan bagus di negeri sakura, karena dunia pendidikan di Jepang menyediakan kancah tersebut secara signifikan]
  5. Tingkah laku dapat dipengaruhi oleh proses-proses dalam organisme: Persepsi, pengalaman dan konsepsi yang dimiliki seorang-orang untuk memp[engaruhi tingkah laku terhadap aspek-aspek tertentu dilingkungannya, misalnya sikap terhadap orang/individu lain. [Lesson study lahir karena menginduksi dari realitas empiri, yakni kenyataan pendidikan di Jepang, kemudian setiap individu guru merespon secara positif, akhirnya lesson studi memiliki “pamor’ dan memiliki sentuhan hati dan daya pembangkit motivasi. Ingat! Lesson Studi selalu memasang syarat kebersamaan (team work), kepedulian dalam berkolaborasi. Winning Team Solution]
  6. Tingkah laku ditentukan oleh kapasitas dalam diri organisme manusia: Kapasitas itu berupa intelegensi dan abilitas sesuai dengan tingkat perkembangannya. Seorang-orang mampu melakukan sesuatu perbuatan sesuai dengan tingkat kapasitasnya sendiri. [Lesson study selalu tidak berhenti membangun kebersamaan, saling melengkapi (komplementer), tidak akan mengambil sebuah keputusan (decision) tanpa melakukan refleksi. Refleksi adalah pangkal sekaligus simpul]
  7. Tingkah laku yang dilandasi Ambisi Sehat: Tingkah laku seorang-orang yang dilandasi dengan ambisi yang sehat kerapkali menghasilan produk terbaik, pada pada akhirnya membuahkan rasa percaya diri. [Lesson study yang kental dengan budaya kolaborasi dan refleksi ini sangat mengharapkan adanya pribadi-pribadi pengajar/guru yang memiliki ambisi yang sehat]

Sunday, January 11, 2009

101 STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF-[ACTIVE LEARNING]

Guru tidak membaca buku ini, ditanggung kekurangan "Gizi" strategi pembelajaran, dan "malnutrisi" pengetahuan. Profesionalisasi seorang guru harus disemaikan dengan peningkatan konsumsi wacana. Buku ini memberikan info secara lengkap, bahwa strategi yang berserakan di dunia ini, tak terhitung jumlahnya, maka jika seorang guru miskin akan variasi dalam pembelajaran, bisa di cap ketinggalan jaman.
Genderang guru bersertifikasi sudah dimulai, sebagian sudah mendapatkan predikat itu, namun jika qua pengetahuan dan kelengkapan ketrampilan tidak dicerahkan, maka makna sertifikasi hanyalah gambaran peningkatan asap dapur saja
101 teknik-teknik staretgi yang dibahas buku ini diterangkan dan dilustrasikan dalam cara-cara sebagai berikut:
Overview [tinjauan secara luas] : Suatu pernyataan tentang tujuan teknik ini dan dimana teknik ini tepat digunakan
Procedure [Prosedur]: Petunjuk langkah demi langkah dan ilustrasi-ilutrasi untuk menunjukkan kepada Anda bagimana menggunkan teknik ini dan menerapkannya ke dalam pokok bahasan Anda
Variations [variasi]: Saran-saran tentang cara alternatif dalam penggunaan teknik ini.
Data buku
JUDUL: Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subyect
PENULIS: Melvin L.Silberman
PENTERJEMAH: Sarjuli, Adzfar Ammar, Sutrsno, Zainal Arifin Ahmad dan Muqowin
PENERBIT: Allyn andBacon Bostom 1966
PENERBIT INDONESIA: Pustaka Insan Mandiri. Jl. Kenanga, Manguwoharjo, Depok Sleman. Telp 074-433239. E-mail : editorial@pustakainsanmadani.com
CETAKAN: 2007
ISBN: 978-979-026-044-3
TEBAL: xxviii+292 halaman. 15,5 x 23 cm
ISI--BUKU
BAGIAN SATU [MEMPERKENALKAN KNSEP BELAJAR AKTIF]
  1. Model-model Belajar
  2. Dimensi Sosial Belajar
  3. Kepedulian Terhadap Belajar Aktif
  4. Inti Dan Kerangka Belajar Aktif

BAGIAN KEDUA [BAGAIMANA MEMBUAT PESERTA DIDIK AKTI SEJAK DINI]

  1. Strategi Membangun Tim
  2. Strategi Penilaian Secara Tepat
  3. Strategi Melibatkan Peserta Didik
BAGIAN KETIGA [BAGAIMANA MEMBUAT PESERT DIDIK MEMPEROLEH PENGETAHUAN KETRAMPILAN, AN SIKAP SECARA AKTIF]
  1. Pengajaran Kelas Penuh
  2. Merangsang Diskusi Kelas
  3. Menghadapi Pertanyaan Terlalu Sulit
  4. Belajar dengan Cara Bekerja Sama
  5. Mengajar Teman Sebaya
  6. Belajar Mandiri
  7. Belajar Afektif
  8. Pengembangan Kecakapan
BAGIAN KEEMPAT [BAGAIMANA BELAJAR AGAR TIDAK LUPA
  1. Strategi strategi Meninjau Ulang
  2. Penilaian Diri
  3. Sentimen Terakhir

Friday, January 9, 2009

30 KIAT PRAKTIS MENDIDIK ANAK

Buku ini memaparkan kiat-kiat praktis berdasarkan pengalaman penulisnya ketika membelajarkan siswa di kelas. Seyogyanya guru itu tidak mudah marah, tidak berputus asa dan tidak bersikap masa bodoh. Tidak semestinya guru banyak memberikan hukuman ketika kondisi belajar mengajar tidak bisa tertib dan kegiatan belajar mengajar tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ketidaktertiban kelas mungkin disebabkan karena pelajaran yang diajarkan kurang menarik, karena cara membelajarkannya juga miskin variasi serta membosankan. Guru terlalu puas dengan metode yang kali ini sering digunakan. Asupan Gizi pengetahuan juga kurang, vitamin variasi, serta serbuk citarasa homuris yang minim, adalah rombongan virus pengahambat keberhasilan pembelajaran. Melalui buku ini semua virus akan ditebang habis.
Data buku
JUDUL : 30 Kiat Praktis Mendidik Anak
PENULIS: Wasid Asdi, S.Ag
PENERBIT:Hikayat Publishing. Jl. Lowanu No.55. Yoyakarta 55162. Telp. 0274-384830 E-mail : hikayat@arabia.com
ISBN: 979-26-0100-7
TEBAL: xii + 48 hlm. 11 x 17 cm

SEKOLAH EFEKTIF & GURU EFEKTIF

Sekolah Efektif dan Guru efektif sebenarnya memiliki hubungan yang resiprolak[timbal balik], jika guru bertindak efektif maka sekolah akan berkonsekuensi menjadi efektif. Namun juga terjadi sebaliknya jika sekolah itu efektif, maka akan membangun pola sikap guru yang efektif.
Kunci untma pembelajaran telah memberikan peringatan, bahwa proses belajara mengajar akan berlangsung dengan ekeftif manakla guru-guru bekerja ekstra keras membangun "iklim" tau "Atmosfir" pembelajaran yang kondusif.
Buku ini memaparkan secara detil bagaimana persekolahan yang efektif itu, dengan mengacu pada U.S. Departemen of Education 1986-1987], bahwa karakteristik inti sekolah efektif yaitu, kekuatan pekemimpinan instruksional, iklim sekolah, harapan yang tinggi terhadap prestasi, menekankan pada ketrampilan dasar, dan monitoring kemajuan berkelanjutan.
Buku ini merupakan saduran dari buku "Effective Schools and Effective Teachers" tulisan Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas yang diterbitkan oleh Allyn and bacon Inc. Bostom pada tahun 1989
Data buku
JUDUL : Sekolah Efektif dan Guru Efektif
JUDUL ASLI: Affective School and Effective Teachers
PENYADUR: Dr. Jamaluddin Idris, M.Ed
PENERBIT: Kerjasama Taufiqiyah Sa'adah- Banda Aceh & Seluh Press Yogyakarta
ISBN: 979-3655-4307
CETAKAN : II Mei 2007
TEBAL: xiv + 160. Uk 14 x 21 cm
Berbagai indikator sekolah efektif dan pendapat beberapa empu pendidikan terkaitan persekolahan dikupas tuntas buku ini.
[Posting belum lengkap]

MENJADI GURU INISIATOR

Profesi guru itu setara dengan profesi yang mengedepakan pola sikap "proaktif", dan bukan sebaliknya yang selalu "reaktif". Sejalan dengan pemikiran bapak pendidikan Indonesia, Kihajar Dewantara, guru itu harus mengemban jalan pikir yang tercakup dalam "ing Ngarso sun tuladha", "ing madya mangu karsa" dan "tut wuri handayani". Jalan pikir inilah yang menggerakakkan pikiran kita, bahwa guru harrus menjadi inisiator. sebagai agen perubahan "agent of change", maka solusi indahnya selalu berakhir bagaimana membentuk sosok guru yang proaktif, alias guru yang selalu "ing ngarso sun tuladha' atau berperan sebagai insiator
Buku ini membentangkannya, guru harus mengubah jalan pikirnya, memutar paradigma pandangnya, dari pembelajaran yang mengedepakan dominasi guru [Teacher Centered], beralih pada Student Centered Instruction.
Data buku:
JUDUL: Menjadi Guru Inisiator
PENULIS: Drs, Thoifuri, M.Ag.
PENERBIT: RaSAIL Media Group --[Ranah Ilmu-ilmu Sosial Agama dan Intradisipliner] Perum Mijen Permai B. 107 Semarang 50218. Telp. 024 76672652. E-mail: pustaka_rasail@yahoo.com
---Catatan kerjasama dengan STAIN Kudus Press. Jl, Conge Ngembalrejo 59322
CETAKAN: I- Maret 2008
ISBN: 978-979-13332-04-5
TEBAL: xii + 210 hlm; 14 x 21 cm
Buku ini tidak hanya menyoroti secara khusus, terkait dengan guru inisiator, namun juga mengembangkan beberapa dimensi lain yang tentunya mendukung terbangunnya jiwa guru yang mengepankan Inisiatif, bahkan guru yang maniak inisiatif.
Buku ini membagi bahasan dalam 10 bab, yakni:
  1. Bab I - Makan dan Hakikat Guru
  2. Bab II - Guru Inisitor
  3. Bab III Prinsip-prinsip Mengajar
  4. Bab IV- Metode Mengajar
  5. Bab V - Gaya Mengajar Guru
  6. Bab VI- Teori Belajar Dalam Pengajaran
  7. Bab VII - Manajemen Kelas
  8. Bab VIII - Kewibawaan Guru
  9. Bab IX Mediua Pengajaran
  10. Bab X - Evaluasi Pengajaran.
Sadapan ringkas:
Menurut buku ini guru dikatakan inisiator apabila memiliki ciri antara lain:
  1. Mengembangkan hal yang sudah ada menjadi lebih sempurna
  2. Menemukan hal-hal baru yang belum ada dalam dunia pendidikan
  3. Selalu mengacu pada tujuan pendidikan nasional, isntitusional, dan kurikuler
  4. Selalu mempunyai gagasan baru untuk diterapkan ke dalam kelas
  5. Mampu memadukan antara teori dengan praktik
  6. Mampu menjabarkan buku teks ajar dengan lingkungan sekitar
  7. Memotivasi anak mempelajari lingkungan alam untuk disesuaikan dengan buku teks ajar
  8. Memberikan contoh pada peserta didiknya untuk disiplin dan bertanggung jawab
  9. Memotivasi anak didik untuk mengadakan pengamatan sosial dan penelitian ilmiah pada lam
  10. memotivasi peserta didik untuk mengkritisi buku teks ajar dan mengembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat global.
Keistimewaan lain buyku ini adalah memiliki box peringatan yang isinya berupa tekanan-tekanan bahasan, misalnya:
"Implementasi guru inisiator selalu mengedepankan kebutuhan peserta didiknya untuk menjadi yang terbaik dengan sistem pengajaran insidental, mencoba-coba dan bermasyarakat"