Sunday, August 2, 2020
Sunday, July 12, 2020
Thursday, November 8, 2018
GURU CERDAS DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
HUT 73 PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
KOTA MOJOKERTO
Hotel: Ayola Sunrise Mojokerto
djoko aw
Catatan singkat:
Berbica
Era Idustrialisasi 4.0 bagaikan komoditas yang laris manis, setiap kehidupan
diteropong dengan dimensi ini. Hapir tidak ada yang terlepas, dari acara yang
formal hingga pembicaraan warung kopi selalu hadir memenuhi ruang komunikasi.
Kadang ketemu “jluntrungnya” kadang pula, tak menentu arahnya, karena orang
hanya terpakau pada idola “the idols of market place”, seperti yang pernah
diungkap oleh Filsuf Inggris bernama Fancis Bacon, bahwa manusia cenderung
hanya menuruti kemauan pasar. Pasar saat ini sedang berbicara tentang revolusi
Industri 4.0, maka semuanya seperti cendawan di musim hujan. Semua berbicara
Revolusi Industri, tentu tidak terjadi di seminar ini. Semoga acara ini untuk
tidak larut dalam bicara musiman dan menuruti pasar, tapi memang terancang
dalam komposisi yang benar, dan bertarget rasional, yakni mengubah paradigma
guru menjadi Guru Cerdas. Semoga.
Dalam catatan ringkas ini akan
mengutarakan point-point sebagai berikut:
SELAMAT DATANG ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Menyambut Era ini tak perlu panik,
apalagi melakukan kalkulasi yang berlebihan. Kehadiranya harus kita terima
seperti air mengalir. Kepanikan akan membuat antisipasi yang salah, namun membiarkan juga menghadirkan masalah.
Menanggapi kehadirannya harus dengan sikap arif, dan memposisikan diri sebagai
manusia yang bertindak obyektif. Terdapat tiga hal yang harus dimengerti di era
ini:
- Techno Phobia
- Techno Mania
- Techno Filia.
Techno Phobia,
adalah pola sikap yang phobi terhadap kehadiran era ini, hingga merasa teracam
posisi profesinya, dianggap teknologi akan menghancurkan peran Guru bahkan
meniadakannya, ini tidak benar.
Guru harus menggoda dirinya, atau yang
saat ini dikenal dengan “mendisrupsi diri”, sadar bahwa kita tidak terancam,
tapi tak boleh diam. Daya adaptasi ditambah agar tidak tertinggal. Phobi
terhadap teknologi tidak kehilangan martabat, tapi tertinggal dilingkaran abad.
Techno Mania,
adalah pola sikap yang berlebihan terhadap kehadiran era ini, semua tergantikan
oleh kecanggihan teknologi. Guru mulai mendewa-dewakan teknologi sehingga tidak
terasa humanitas seorang guru terlibas. Meras tidak bisa survival di era ini.
Seakan kehilangan jatidiri tanpa teknologi adalah kesalahan besar, sumber
insani seakan-akan tak berfungsi lagi, padahal senyuman seorang guru tidak
pernah digantikan oleh teknologi.
Techno Filia,
adalah pola sikap yang bijak, menggunakan teknologi sepantasnya, dan tidak
meninggalkan kepribadian dari sikap dasar manusia.
Teknologi bukan ditolak tapi teknologi
dimanfaatkan dengan optimal dan maksimal, tidak menjauhi teknologi, tapi juga
tidak semua tergantikan oleh teknologi. Techno Filia membuat manusia bijak
menjaga humanitas, tapi selalu menggetarkan daya adaptasi secara
manusiawi.
ERA SALING TERHUBUNG
Era
Revolusi Indutri 4.0 melesat dengan bercirikan saling terhubung, semuanya bisa
saling sapa, semuanya terbuka, semua terdata. Era ini membuat atmosfir maya
dipenuhi data tak terbatas, manusi tidak terasa menjadi kontributor aktif
bertambahnya data di “mega data”. Setiap detik selalu memberikan data, menyalin
data, melipatgandakan data bahkan menyambung-sambungkan data. Era ini membuat
semau sektor menjadi saling terhubung. Proses pembelajaran anak manusia semakin
menjadi proses navigasi, karena semaunya sudah tersedia di dunia maya.
Kurikulum sudah mendunia, tinggal di unduh dalam hitungan detik, perpustakaan
dunia berada di genggaman tangan kita, gambar gambar tersedia tajamnya melebihi
kecermatan pixel mata manuia. Di era inilah maka kita beraba di era cyber
system. Tak terasa kita semua sudah menjadi bagian dunia, foto kita tiba-tiba
tersimpan di “mega data”, kita hanya tertegum kandang terkejut, bahwa semua orang
mengetahui gerak gerik kita, padahal sudah disembunyikan secara rapi.
Era ini membuat kita sangat “care”, lebih
dari perhatian tapi multi perhatian sembari menggoda diri. Karena era ini
dipenuhi dengan munculnya robotika, lalu memunculkan kendaraan atau tanpa
kendali manusia, dan lahirnya nano teknologi dengan membuat semua peralatan
mati menjadi bernyawa. Benda mati dapat hidup karena berisikan Chip sebagai
anak kandung nano teknologi.
Pertanyaan asasi yang harus dijawab
adalah, apakah kita mampu bertahan tanpa adaptasi?
Berikut solusi yang harus dikedepankan,
yakni menngoda diri tanpa kehilangan jati diri. Bukan bertahan di zona aman dan
nyaman, tapi bertahan dengan selalu menggoda diri untuk beradaptasi.
GURU CERDAS TAK TERBATAS adalah
GURU INSPIRATIF YANG
CENDERUNG KREATIF
CIRI GURU yang INSPIRATIF itu, guru yang memiliki:
- Kelincahan mental [mental agility]
- Berfikir ke segala arah [divergent thinking]
- Fleksibilitas konseptual [conceptual flexibility]
- Originalitas [originally]
- Lebih kearah kompleksitas daripada simplisitas
- Latar belakang yang merasang [stimulating background]
- Kecakapan ganda [multiple skills]
Indikasi Guru di era Indusrial 4.0
- Visualizing.
Seorang Guru visioner mempunyai
gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan kapan hal itu akan
dicapai
- Futuristic Thinking
Seorang Guru Visioner tidak hanya
memikirkan kondisi saat ini, tetapi juga memikirkan kondisi yang diinginkan
pada masa yang akan datang
- Showing Fore sign
Seorang Guru Visioner adalah
perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak
hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi juga mempertimbangkan
teknologi, prosedur, organisasi, dan factor lain yang dapat mempengaruhi
rencana
- Proactive Planning
Seorang Guru Visioner menetapkan sasaran dan
startegi yang spesifik agar bisa mencapai sasaran tersebut dengan baik serta
mampu mengantisipasi atau mempertimbangkan berbagai rintangan potensial dan
melakukan pengembangan rencana darurat untuk menanggulangi hambatan
- Creative Thingking
Seorang Guru visioner dalam
menghadapi tantangan berusaha mencari alternative pemecahannya dengan
memerhatikan isu, peluang, dan masalah
- Taking Risk,
Seorang Guru visioner berani
mengambil risiko sekecil apapun, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukanya
sebuah kemunduran
- Processing Alignment.
Seorang Guru Visioner mampu
menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi
- Coating Alignment.
Seorang Guru Visioner sadar bahwa
dalam rangka mencapai tujuan, dia harus bekerja sama dalam menciptakan hubungan
yang harmonis, baik kedalam maupun keluar
- Continuous Learning.
Seorang Guru visioner selalu mampu
mengikuti pelatihan dan pendidikan secara teratur, dalam rangka mengembangkan
profesionalitas dan memperluas pengethauna, serta memberikan tantangan berpikir
dan mengembangkan imajinasi
- Embracing Change
Seorang Guru Visioner tahu bahwa
perubahan adalah suatu bagian terpenting bagi pertumbuhan dan pengembangan
kemampuan dirinya. Ketika ada perubahan yang dinginkan atau yang tidak
diantisipasi sebelumnya, Seorang Guru visioner dengan aktif menyelidiki jalan
yang dapat memberikan manfaat ari peerubahan tersebut.
Saturday, June 23, 2018
POSTMO FELATELIA
POSTMO-FILATELIA
Oleh Djoko Adi Walujo
Kreativitas
sulit dibendung apaladi dizaman yang penuh dengan derasnya arus teknologi.
Teknologi mampu menggerus apa saja, dan mampu mempoleferasi apa saja. Kemajuan
teknologi informasi yang secara bersamaan memunculkan media sosial yang dahsyat
membuat semua yang nyaman menjadi goyah. Zaman yang sekarang disebut dengan era
disruption dengan mudah disebut pula sebagai
era penggoda. Tahta yang sulit dijamah mudah patah, tiada lagi dinasti,
semua menjadi rentan terhadap perubahan. Semua relung aktivitas manusia tidak
memiliki daya tangkal menghentikan kecuali daya adaptasi yang mampu mengawal
eksistensi. Termasukjuga domain hobi, kini hobi menjadi berkembang baik kualita
dan kuantitanya. Dulu swap benda-benda filetali penuh dengan aleta yang menutupi,
hanya berbekal sebuah ceruta tanpa melihat visual, kini sekarang menjadi terang
benderang bahkan real time.
Exibition fileteli dulu terhitung dengan
durasi tahunan baru dapat terselenggara,
bahkan harus menyiapkan properti yang begitu lama, kini setiap detik orang bisa
memamerkan karena wahana sudah tersedia dengan percuma. Pameran filateli seakan
nir biaya, karena aplikasi komputer mengundangnya. Seorang filetelis bisa pamer
diberbagai belahan dunia, tanpa harus datang membawa benda-benda filateli
kesayangan. Seorang filatelis bisa berpamer ria dalam waktu yang bersamaan pada
domain yang berbeda. Mereka bisa berpamer di media sosial yang menjadi
pilihannya, namun juga bisa semua digunakan. Hari ini pamer di dinding Facebooknya,
besuk sudah pindah di Instagramnya, dan secara bersamaan berpamer di Piterest.
Lembaga
filatelis yang cukup wibawa akan serta merta pudar dan terkubur bersama aturan
detil yang dimiliki dan sudah lama bertahta. Aturan filatelis lama lama
terlanggar oleh kemajuan teknologi. Dulu dalam exibisi ada aturan ketat
bagaikan menyusun sebuha tesis atau desertasi, sekarang berubah menjadi
tema-tema yang lebih detil dan sesuai perkembangan zaman. Sensasi kejadian juga
mengundang tema untuk merespon dengan cepat dan kecanggihan desain yang sangat
canggih dan cepat.
Tema
prangko yang menghadirkan tokoh-tokoh kendati sekarang masioh eksis, namun
muncul pula postmo feletelia, yang tema prangko yang menuruti pasar dan
kekinian. Tiba tiba secara mendunia muncul tema Hello Kitty, Tintin, Wonder
Women, Superman, Ultraman dll. Belum lagi muncul prangko prisma yang sangat
privasi sekali
Kini
seorang filetelis sedang diuji, jika kekeh dan maladaptip, berarti tertinggal
dengan kemajuan.
Kini
muncul juga berbagai kelompok atau komunitas pecinta prangko secara maya, lalu
muncul komunitas posttcrossing, bahkan
masih banyak lagi yang sifatnya sangat mendunia.
Saya
secara pribadi tidak ingin lebih dari ranah kemajuan ini, dan saya menamakan
sekaligus mendeklarasikan sendiri sebagai penganut POSTMO-FITELA sebuah
terminologi yang saya buat sendiri. Inilah saya yang ingin berbeda tapi masih
menghormati pada mereka yang juga berbeda. Salam semoga semuanya bahagia.
Sunday, April 15, 2018
AKREDITASI PERGURUAN TINGGI TAK BOLEH MENCIPTA KELAMBU PALSU
Surabaya 14 April 2018
AKREDITASI PERGURUAN TINGGI TAK BOLEH MENCIPTA KELAMBU PALSU
Oleh Djoko Adi Walujo
Akreditasi pendidikan
itu sesungguhnya bukan merupakan tradisi ataupun ritual mutu belaka, tetapi
adalah sebuah gagasan yang amat mendasar bangsa guna meningkat mutu pendidikan.
Akreditasi bukan ajang untuk mencapai
predikat dengan level tertentu, namun lebih pada membangun kesadaran bahwa pendidikan
adalah titik awal dari kemajuan bangsa, dan mengangkat derajat bangsa.
Pendidikan sebagai altar kemajuan harus
diawali dengan melihat cermat lembaga pendidikan, mulai dari suasana akademi
yang dikenal atmosfir akademik, hingga pada egilitas dan daya pembeda dari
sifat yang rerata. Harus ada kata
sepakat, kita harus menjadi tuan rumah yang penuh syukur sarwa jujur, agar dapat
berlabuh sempurna di pulau harapan. Hindari pola sikap Hazard yang hanya
mempertonton akrobat kepalsuan, dengan membuat kemasan-kemasan yang jauh dari
isi di dalamnya. Kita tak boleh menggunakan tuyul-tuyul modern yang hanya
mengandalkan lobby dengan diplomasi tingkat tinggi dari pada meningkat potensio diri. Jadikan
Akreditasi ini sebagai sarana mendengarkan penilaian obyektif dari para asesor,
sekaligus jadikan cermin kita. Jika yang nampak dalam cermin itu sebuah
performansi yang baik segera mengulang berkaca lagi untuk mensyukuri. Namun
sebaliknya jika dan jika dalam cermin
kita berwajah menjijikkan, berlepotan, dan mendapatkan derajat yang amat sangat
rendah, jangan jatuh diri, namun segera bangkit lari. Jika dan hanya jika kita
sadar maka kita sudah memasuki labirinnya kemajuan. Bukan malah mengunakan palu
godam menghancurkan cermin menjadi serpihan kaca halus, sehinga kita kehilangan
jejak-jejak buruk kita, atau artefak kelemahan yang sebenarnya.
Kali ini universitas Adi Buana Surabaya sedang
masuk wilayah itu, suasana mendekati hari pelaksanaan visitasi persiapan
menyambut datangnya asesor, bagikan menabuh genderang dalam suasana siaga satu. Kampus semangat pagi bakal menjadi
tuan rumah, tentu seorang tuan rumah akan menunjukkan keramahan, bahkan akan
berbuat yang baik dari yang terbaik, namun bukan untuk mencipta daya sihir,
atau membuat kelambu palsu. Tak elok kita berkedok dan tak bagus karena membuat
daya bius.
Mutu tidak boleh berlindung dari
seeonggok tampilan temporary, sesuatu upaya yang sifatnya hanya sesaat, namun
harus dimulai dari nawaitu berupa niatan menanggalkan kesesatan menuju sebuah
suguhan managerial yang tepat nan lezat. Jika para tamu merasakannya tentu
tidak mudah berkata tidak, jika tamu tamu terhormat kita merasakan ada yang
timpang, janganlah meradang.
Akreditasi itu sejatinya dahsyat,
setidaknya akan membuat kita solid dalam pola pikir dan pola tindak, terbangun
sebuah integritas, dan dengan akreditasi perguruan tinggi akan membangunkan
saraf-saraf yang tertidur selama ini. Instrumen dijawab dengan lugas sembari
mencari titik lemah untuk segera dipenuhi, menambal semua kekurangan dan
menghidar dari perbuatan curang. Sadarlah bahwa kita sejatinya masih lemah,
tapi semangatlah yang membimbing dan mengantar kita, lalu niatan yang kuat akan
memsuplai daya yang dahsyat, dan kita menjawab dengan Bisa!.
Mutu
harus menjadikan kita sadar, bahwa kemajuan hanya dicapai dengan
profesionalitas dengan mengimbangkan atara kuslitas dan bukan hanya sekedar
mengejar kuantitas. Mutu bukan dibangun sehari semalam seperti legenda Roro
Jongrang, namun diraih bagaikan tahapan fisis dari nol derajat menuju seratus
derajat. Meminjam pemikiran seorang
orang bernama Kaizen bahwa sesungguhnya mutu dicapai dengan totalitas dan
komitmen positif manajer puncak, tentu di sini pimpinan perguruan tinggi harus
lebih totalitas dengan berbagai kerja cerdas. Strategi dan mental agilitas adalah sebuah
modal untuk melahirkan kreativitas yang penuh daya yang amat gigih untuk berinovatisi,
kepedulian ditingkatkan tanpa melupakan amanah yang diberikan oleh stakeholdernya.
Tamu
kita saat ini sudah siap hadir mari kita sambut dengan Yel-yel yang memotivasi
semangat kita dalam kebersamaan “Satu Adi Buana” dengan melafalkan kata “Semangat
Pagi” dengan lantang serta kita balas dengan kata “yes” sebagai ungkapan niat untuk bertanggung
Jawab. Mari kawan kita tunduk kepala
sejenak seraya memohon Tuhan penguasa alam, agar semua keinginan kita terekam,
berlajut dengan datangnya kemurahan.
Saturday, March 17, 2018
Akankah Daring dan Distance Learning senasib ikan Louhan dan Anturium Gelombang Cinta?
Musim “daring” dan Musim “Distance Learning”, akankah kering?
Dulu orang pernah terkejut ketika ikan Louhan dari negeri jiran masuk ke Indonesia, semua pingin memilikinya, karena ada keunikan juga ada yang setengah disakralkan, bau bau magis dibumbui pembawa rejeki, alias feng-sui.
Malaysia saat itu memang berhasil mem-BRANDING ikan berdahi nonong itu. Foto foto keberhasilan “birding si louhan” juga masuk ke dunia internet, buku tentang berternak louhan juga semarak bahkan tabloid khusus ikan louhan juga terbit secara berkala dan rajin menyapa siapa saja yang sedang kasmaran dengan Lohan. Tidak hanya permasalahan berternak tapi berbagai macam asesoris ikut membanjiri benak orang Indonesia. Toko dan pasar ikan Louhan dadakan menjamur, rasanya tema pembicaraan juga tidak pernah sepi dari masalah ikan bermarka itu. Waktu akhirnya juga manamatkan kejayaan sang ikan Louhan, karena semuanya sudah bisa memijahkan. Hukum ekonomi mulai berbicara, ternyata makin banyak persediaan harga juga turun. Hukum ekonomi itu juga menyikat habis kejayaan sang bunga raksasa yang berjuluk GELOMBANG CINTA. Akhirnya Anthurium yang konon berjaya itu terlumat juga. Kita tentu masih ingat semaraknya sang batu bernama Akik, bahkan presiden Amerika Serikat ke 44 Barack Obama pernah mendapat hadiah batu Akik, dan berita bersuar seantero dunia, saat itu memang berjaya bahkan membawa gemuruh dunia. Akhirnya pelahan juga hilang ditelan masa. Lalu bagaimana dengan maraknya pembahasan model pembelajaran daring dan distance Learning yang didukung atmosfir era revolusi industri 4.0 akan berjaya dan apakah senasib dengan Louhan? Tebtu jawabnya masih bersifat hipotetis pula. Namun yang harus menjadi pembelajaran bahwa ikan Louhan, anthurium dan Akik, pernah dilumatkan hukum ekonomi tentang surplus dan demam-deman. Secara hipotetis jika semua perguruan tinggi rame rame membuat daring lalu juga distance Learning, hukum ekonomi akan membenarkan hipotesis, bahwa sistem Daring dan distance Learning terlumat juga. Setidaknya akan kembali atau memodifikasi perkawinan model pembelajaran konvensional dengan daring.
Subscribe to:
Posts (Atom)





