Google

Saturday, June 23, 2018

POSTMO FELATELIA


POSTMO-FILATELIA
Oleh Djoko Adi Walujo
Kreativitas sulit dibendung apaladi dizaman yang penuh dengan derasnya arus teknologi. Teknologi mampu menggerus apa saja, dan mampu mempoleferasi apa saja. Kemajuan teknologi informasi yang secara bersamaan memunculkan media sosial yang dahsyat membuat semua yang nyaman menjadi goyah. Zaman yang sekarang disebut dengan era disruption dengan mudah disebut pula sebagai  era penggoda. Tahta yang sulit dijamah mudah patah, tiada lagi dinasti, semua menjadi rentan terhadap perubahan. Semua relung aktivitas manusia tidak memiliki daya tangkal menghentikan kecuali daya adaptasi yang mampu mengawal eksistensi. Termasukjuga domain hobi, kini hobi menjadi berkembang baik kualita dan kuantitanya. Dulu swap benda-benda filetali penuh dengan aleta yang menutupi, hanya berbekal sebuah ceruta tanpa melihat visual, kini sekarang menjadi terang benderang bahkan real time.
     Exibition fileteli dulu terhitung dengan durasi  tahunan baru dapat terselenggara, bahkan harus menyiapkan properti yang begitu lama, kini setiap detik orang bisa memamerkan karena wahana sudah tersedia dengan percuma. Pameran filateli seakan nir biaya, karena aplikasi komputer mengundangnya. Seorang filetelis bisa pamer diberbagai belahan dunia, tanpa harus datang membawa benda-benda filateli kesayangan. Seorang filatelis bisa berpamer ria dalam waktu yang bersamaan pada domain yang berbeda. Mereka bisa berpamer di media sosial yang menjadi pilihannya, namun juga bisa semua digunakan. Hari ini pamer di dinding Facebooknya, besuk sudah pindah di Instagramnya, dan secara bersamaan berpamer di Piterest.
Lembaga filatelis yang cukup wibawa akan serta merta pudar dan terkubur bersama aturan detil yang dimiliki dan sudah lama bertahta. Aturan filatelis lama lama terlanggar oleh kemajuan teknologi. Dulu dalam exibisi ada aturan ketat bagaikan menyusun sebuha tesis atau desertasi, sekarang berubah menjadi tema-tema yang lebih detil dan sesuai perkembangan zaman. Sensasi kejadian juga mengundang tema untuk merespon dengan cepat dan kecanggihan desain yang sangat canggih dan cepat.
Tema prangko yang menghadirkan tokoh-tokoh kendati sekarang masioh eksis, namun muncul pula postmo feletelia, yang tema prangko yang menuruti pasar dan kekinian. Tiba tiba secara mendunia muncul tema Hello Kitty, Tintin, Wonder Women, Superman, Ultraman dll. Belum lagi muncul prangko prisma yang sangat privasi sekali
Kini seorang filetelis sedang diuji, jika kekeh dan maladaptip, berarti tertinggal dengan kemajuan.
Kini muncul juga berbagai kelompok atau komunitas pecinta prangko secara maya, lalu muncul  komunitas posttcrossing, bahkan masih banyak lagi yang sifatnya sangat mendunia.
Saya secara pribadi tidak ingin lebih dari ranah kemajuan ini, dan saya menamakan sekaligus mendeklarasikan sendiri sebagai penganut POSTMO-FITELA sebuah terminologi yang saya buat sendiri. Inilah saya yang ingin berbeda tapi masih menghormati pada mereka yang juga berbeda. Salam semoga semuanya bahagia.        

Sunday, April 15, 2018

AKREDITASI PERGURUAN TINGGI TAK BOLEH MENCIPTA KELAMBU PALSU


Surabaya 14 April 2018
AKREDITASI PERGURUAN TINGGI TAK BOLEH MENCIPTA KELAMBU PALSU
Oleh Djoko Adi Walujo
      Akreditasi pendidikan itu sesungguhnya bukan merupakan tradisi ataupun ritual mutu belaka, tetapi adalah sebuah gagasan yang amat mendasar bangsa guna meningkat mutu pendidikan.  Akreditasi bukan ajang untuk mencapai predikat dengan level tertentu, namun lebih  pada membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah titik awal dari kemajuan bangsa, dan mengangkat derajat bangsa. Pendidikan sebagai altar kemajuan harus  diawali dengan melihat cermat lembaga pendidikan, mulai dari suasana akademi yang dikenal atmosfir akademik, hingga pada egilitas dan daya pembeda dari sifat yang rerata.  Harus ada kata sepakat, kita harus menjadi tuan rumah yang penuh syukur sarwa jujur, agar dapat berlabuh sempurna di pulau harapan. Hindari pola sikap Hazard yang hanya mempertonton akrobat kepalsuan, dengan membuat kemasan-kemasan yang jauh dari isi di dalamnya. Kita tak boleh menggunakan tuyul-tuyul modern yang hanya mengandalkan lobby dengan diplomasi tingkat tinggi  dari pada meningkat potensio diri. Jadikan Akreditasi ini sebagai sarana mendengarkan penilaian obyektif dari para asesor, sekaligus jadikan cermin kita. Jika yang nampak dalam cermin itu sebuah performansi yang baik segera mengulang berkaca lagi untuk mensyukuri. Namun sebaliknya jika dan jika  dalam cermin kita berwajah menjijikkan, berlepotan, dan mendapatkan derajat yang amat sangat rendah, jangan jatuh diri, namun segera bangkit lari. Jika dan hanya jika kita sadar maka kita sudah memasuki labirinnya kemajuan. Bukan malah mengunakan palu godam menghancurkan cermin menjadi serpihan kaca halus, sehinga kita kehilangan jejak-jejak buruk kita, atau artefak kelemahan yang  sebenarnya.
    Kali ini universitas Adi Buana Surabaya sedang masuk wilayah itu, suasana mendekati hari pelaksanaan visitasi persiapan menyambut datangnya asesor, bagikan menabuh genderang dalam suasana  siaga satu. Kampus semangat pagi bakal menjadi tuan rumah, tentu seorang tuan rumah akan menunjukkan keramahan, bahkan akan berbuat yang baik dari yang terbaik, namun bukan untuk mencipta daya sihir, atau membuat kelambu palsu. Tak elok kita berkedok dan tak bagus karena membuat daya bius.
      Mutu tidak boleh berlindung dari seeonggok tampilan temporary, sesuatu upaya yang sifatnya hanya sesaat, namun harus dimulai dari nawaitu berupa niatan menanggalkan kesesatan menuju sebuah suguhan managerial yang tepat nan lezat. Jika para tamu merasakannya tentu tidak mudah berkata tidak, jika tamu tamu terhormat kita merasakan ada yang timpang, janganlah meradang.
    Akreditasi itu sejatinya dahsyat, setidaknya akan membuat kita solid dalam pola pikir dan pola tindak, terbangun sebuah integritas, dan dengan akreditasi perguruan tinggi akan membangunkan saraf-saraf yang tertidur selama ini. Instrumen dijawab dengan lugas sembari mencari titik lemah untuk segera dipenuhi, menambal semua kekurangan dan menghidar dari perbuatan curang. Sadarlah bahwa kita sejatinya masih lemah, tapi semangatlah yang membimbing dan mengantar kita, lalu niatan yang kuat akan memsuplai daya yang dahsyat, dan kita menjawab dengan Bisa!.
Mutu harus menjadikan kita sadar, bahwa kemajuan hanya dicapai dengan profesionalitas dengan mengimbangkan atara kuslitas dan bukan hanya sekedar mengejar kuantitas. Mutu bukan dibangun sehari semalam seperti legenda Roro Jongrang, namun diraih bagaikan tahapan fisis dari nol derajat menuju seratus derajat.  Meminjam pemikiran seorang orang bernama Kaizen bahwa sesungguhnya mutu dicapai dengan totalitas dan komitmen positif manajer puncak, tentu di sini pimpinan perguruan tinggi harus lebih totalitas dengan berbagai kerja cerdas.  Strategi dan mental agilitas adalah sebuah modal untuk melahirkan kreativitas yang penuh daya yang amat gigih untuk berinovatisi, kepedulian ditingkatkan tanpa melupakan amanah yang diberikan oleh stakeholdernya.
Tamu kita saat ini sudah siap hadir mari kita sambut dengan Yel-yel yang memotivasi semangat kita dalam kebersamaan “Satu Adi Buana” dengan melafalkan kata “Semangat Pagi” dengan lantang serta kita balas dengan kata  “yes” sebagai ungkapan niat untuk bertanggung Jawab.  Mari kawan kita tunduk kepala sejenak seraya memohon Tuhan penguasa alam, agar semua keinginan kita terekam, berlajut dengan datangnya kemurahan.  

Saturday, March 17, 2018

Akankah Daring dan Distance Learning senasib ikan Louhan dan Anturium Gelombang Cinta?

Musim “daring” dan Musim “Distance Learning”, akankah kering?
Dulu orang pernah terkejut ketika ikan Louhan dari negeri jiran masuk ke Indonesia, semua pingin memilikinya, karena ada keunikan juga ada yang setengah disakralkan, bau bau magis dibumbui pembawa rejeki, alias feng-sui. 


Malaysia saat itu memang berhasil mem-BRANDING ikan berdahi nonong itu. Foto foto keberhasilan “birding si louhan” juga masuk ke dunia internet, buku tentang berternak louhan juga semarak bahkan tabloid khusus ikan louhan juga terbit secara berkala dan rajin menyapa siapa saja yang sedang kasmaran dengan Lohan. Tidak hanya permasalahan berternak tapi berbagai macam asesoris ikut membanjiri benak orang Indonesia. Toko dan pasar ikan Louhan dadakan menjamur, rasanya tema pembicaraan juga tidak pernah sepi dari masalah ikan bermarka itu. Waktu akhirnya juga manamatkan kejayaan sang ikan Louhan, karena semuanya sudah bisa memijahkan. Hukum ekonomi mulai berbicara, ternyata makin banyak persediaan harga juga turun. Hukum ekonomi itu juga menyikat habis kejayaan  sang bunga raksasa yang berjuluk GELOMBANG CINTA. Akhirnya Anthurium yang konon berjaya itu terlumat juga. Kita tentu masih ingat semaraknya sang batu bernama Akik, bahkan presiden Amerika Serikat ke 44 Barack Obama pernah mendapat hadiah batu Akik,  dan berita bersuar seantero dunia, saat itu memang berjaya bahkan membawa gemuruh dunia. Akhirnya pelahan juga hilang ditelan masa. Lalu bagaimana dengan maraknya pembahasan model pembelajaran daring dan distance Learning yang didukung atmosfir era revolusi industri 4.0  akan berjaya dan apakah senasib dengan Louhan? Tebtu jawabnya masih bersifat hipotetis pula. Namun yang harus menjadi pembelajaran bahwa ikan Louhan, anthurium dan Akik, pernah dilumatkan hukum ekonomi tentang surplus dan demam-deman. Secara hipotetis jika semua perguruan tinggi rame rame membuat daring lalu juga distance Learning, hukum ekonomi akan membenarkan hipotesis, bahwa sistem Daring dan distance Learning terlumat juga. Setidaknya akan kembali atau memodifikasi perkawinan model pembelajaran konvensional dengan daring.

Friday, December 8, 2017

“LESSON STUDY” UBAH PERILAKU MENUJU RANAH PROFESIONALISME



 “LESSON STUDY” UBAH PERILAKU MENUJU RANAH PROFESIONALISME

PENGANTAR:
Lesson Study saat ini telah menyeruak di antero dunia, bahkan Indonesia termasuk negara yang ikut menggandrunginya, serta merta mengadopsi untuk peranti membangun profesi. Lesson Study sebenarnya adalah sebuah terminology yang berkembang di ranah pendidikan, dan pertama kali muncul ketika seorang-orang pakar pendidikan Jepang, Makoto Yoshida sedang merapungkan disertasinya di University of Chicago. Lesson study adalah sebuah terjemahan dari  yugyou kenkyuu”. Hingga kini sang maestro pendidikan Jepang ini dianggap sebagai pionir yang merintis penerapan lesson study di Amerika bersama professor pendidikan dari Milss College Oakland. Catherine Lewis. Bak gayung bersambut karena Catherine Lewis sebenarnya sangat tertarik, bahkan telah banyak melakukan penelitian tentang system pendidikan di Jepang.  Pada perjalanannya Amerika pun mulai mengadopsi dan mencoba  menerapkannya, namun pertama kehadirannya Lesson study mendapatkan getaran “pesimistis”.  Tapi sekarang Lesson Study di Amerika mendapatkan tempat. Mudah-mudahan juga terjadi di Pacitan, Lesson Study mendapatkan tempat di hati. 


TUJUH MANFAAT [“7M”] DALAM PERBAIKAN KOMPETENSI PROFESIONAL




Pada hakikatnya Lesson Study lahir dari sebuah proses induktif dari realitas empiri persoalan-persoalan pendidikan, dan yang lebih mikro di ranah pembelajaran. Proses induktif itu terjadi di Jepang. Namun saat ini telah tertata difungsikan sebagai proses pengembangan untuk para guru, dan dikreasi secara sistematis, teristimewa tujuan utama menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih baik dan efektif
Melalui Lesson study akan direngkuh manfaat-manfaat sebagai berikut:
  1. Lesson Study Memicu Munculnya Motivasi untuk mengembangkan diri
  2. Lesson Study Melatih Pendidik “Mencermati” Peserta Didik
  3. Lesson Study Menjadikan Penelitian Sebagai Bagian Integral Pendidikan
  4. Lesson Study Membantu  Penyebaran Inovasi dan Pendekatan Baru
  5. Lesson Study Menempatkan Para  Pendidik pada Posisi Terhormat
  6. Lesson Study Memunculkan Knowledge Sharing
  7. Lesson Study Membangun hubungan kolegial dan Mutual Learning 

TUJUH  KENDALA PENERAPAN:

S
esuatu yang baru acapkali mendatangkan celaan, apalagi ditopang oleh sebuah anggapan akan menggantikan yang lama. Sisi lain diperparah dengan kecenderungan enggan berubah “anti perubahan”. Realitas ini akan menjadi kendala penerapan  Lesson Study. Adapun terdapat  kendala-kendala itu adalah:
  1. Anggapan bahwa Lesson Study pemborosan waktu,  karena aktivitas Lesson study selalu membutuhkan pengorbanan waktu bagi sang pendidik, bahkan harus rela untuk berlebih-lebihan. Intensitas diskusi yang kerap, juga Memerlukan siklus yang panjang  dan banyak
  2. Lesson Study dianggap tidak relevan dengan budaya Indonesia yang cenderung permisif dan selalu menjujung kaidah harmonisasi ketimbang  keterbukaan.
  3. Lesson Study dianggap memaksa pendidik mengubah gaya mengajar
  4. Merasa terawasi dan “risi” ketika dalam proses belajar mengajar dihadiri observer
  5. Anggapan adanya pemaksaan, untuk mengubah  gaya belajar
  6. Tututan pendokumentasian dianggap beban biaya tinggi [high cost]
  7. Lesson study tidak cocok dilakukan pada pendidikan non formal, dan hanya cocok untuk pendidikan formal



TUJUH IDEALITAS YANG DIPERSYARATKAN:


S
ebagai inovasi Lesson Study tidak serta merta mudah diterapkan, apa lagi langsung siap pakai [running well], namun harus mengikuti tahapan fisis dari nol derajat hingga seratus derajat. Oleh karenanya Lesson Study kerap kali di juluki sebagai bentuk CPD – Continuing Professional Development, dan menjunjung azas perbaikan terus menerus “Continues Improvement”.
Untuk mengemban pencapaian maka terdapat beberapa yang dianggap sebagai persyaratan, yakni persyaratan kondisi ideal.
1.      Adanya Stabilitas Kebijakan Pendidikan
2.      Dukungan Birokarsi Pendidikan
3.      Kemampuan menerima perubahan
4.      Kurikulum yang Memberi Ruang untuk berkembang
5.      Budaya Refleksi Diri
6.      Budaya Kerja Sama
7.      Budaya pendokumentasian


TUJUH  KUNCI PERUBAHAN TINGKAH LAKU:

Sejumlah unsur yang menjadi ciri perubahan tingkah laku seorang guru, menuju Lesson Study:
q  Tingkah laku dimotivasi : seorang-orang mau berbuat sesuatu karena adanya tujuan yang hendak dicapai. [seorang-orang guru harus memahami secara holistic hal ikhwal “lesson study”, apa dan mengapa lesson study]. Perubahan tingkah laku dimulai dari dalam organisme yang bermotivasi, dan keadaan ini muncul berkat kebutuhan pada organisme. [seorang-orang guru harus memahami, apa manfaat  lesson study]

q  Tingkah laku yang bermotivasi adalah tingkah laku yang sedang terarah pada tujuan: Motivasi mengandung dua aspek yakni adaanya keadaan tegang [tension] atau ketakpuasan dalam diri seseorang dan kesadaran bahwa tujuan tercapainya tujuan akan mengurangi ketegangan tersebut. Ini berarti pencapai tujuan adalah pengurangan ketegangan dan pemuasan kebutuhan. [ditilik kelahirannya lesson studi hadir atas sebuah ketegangan dari keadaan pendidikan di Jepang, yang menginginkan pendidikan memiliki daya kompetitif  mendunia].Makna terdalamnya Lesson study tidak akan membumi jika tidak ada permasalahan yang dihadapi.


q  Tujuan yang disadari oleh seorang-orang akan mempengaruhi tingkah laku di dalam upaya mencapai tujuan tersebut: Konsekuensinya ialah tingkah laku bersifat selektif dan regulative. Seorang-orang memilih perbuatan/tindakan yang  hanya mengacu ke arah pencapaian tujuan yang dapat memuaskan kebutuhannya. [harus pararel antara individu seorang guru dalam memandang kebutuhan utamanya terkait dengan penerapan lesson study, dengan tujuan sekolah. Jika tidak pararel maka, justru guru akan mengadi efek pencegah- deterrent effect]

q  Lingkungan menyediakan kesempatan untuk bertingkah laku tertentu, dan/atau membatasi tingkah laku seorang-orang tertentu: Lingkungan sebagai situasi stimulus dalam satu sisi dapat memuaskan kebutuhan dan dalam sisi lain dapat membatasi pemuasan kebutuhan dengan cara tertentu. [Lesson study membutuhkan lingkungan yang kondusif, dukungan birokrasi pendidikan yang signifikan adalah pemicu potensi sukses. Lesson study berhasil dengan bagus di negeri sakura, karena dunia pendidikan di Jepang menyediakan kancah tersebut secara signifikan]
q  Tingkah laku dapat dipengaruhi oleh proses-proses dalam organisme:  Persepsi, pengalaman dan konsepsi yang dimiliki seorang-orang untuk memp[engaruhi tingkah laku terhadap aspek-aspek tertentu dilingkungannya, misalnya sikap terhadap orang/individu lain. [Lesson study lahir karena menginduksi dari realitas empiri, yakni kenyataan pendidikan di Jepang, kemudian setiap individu guru merespon secara positif, akhirnya lesson studi memiliki “pamor’ dan memiliki sentuhan hati dan daya pembangkit motivasi. Ingat! Lesson Study selalu memasang syarat kebersamaan (team work), kepedulian dalam berkolaborasi. Winning Team Solution]

q  Tingkah laku ditentukan oleh kapasitas dalam diri organisme manusia: Kapasitas itu berupa intelegensi dan abilitas sesuai dengan tingkat perkembangannya. Seorang-orang mampu melakukan sesuatu perbuatan sesuai dengan tingkat kapasitasnya sendiri. [Lesson study selalu tidak berhenti membangun kebersamaan, saling melengkapi (komplementer), tidak akan mengambil sebuah keputusan (decision) tanpa melakukan refleksi. Refleksi adalah pangkal sekaligus simpul]    


q  Tingkah laku yang dilandasi Ambisi Sehat: Tingkah laku seorang-orang yang dilandasi dengan ambisi yang sehat kerapkali menghasilan produk  terbaik, pada pada akhirnya membuahkan rasa percaya diri. [Lesson study yang kental dengan budaya kolaborasi dan refleksi ini sangat mengharapkan adanya pribadi-pribadi pengajar/guru yang memiliki ambisi yang sehat]



RUJUKAN YANG MEMBANTU



M. Joko Susilo [2006].Gaya Bealajar Menjadikan Semakin Pintar. Pinus Book Publisher. Yogyakarta
Putu Ashintya Widhiartha dkk [2008]. Lesson Study Sebuah Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Pendidikan Non Formal. BPPNFI Regional IV Surabaya

Wednesday, November 8, 2017

PENDIDIKAN DAN KEADILAN GENDER






Pendidikan dan Keadilan Gender
Djoko Adi Walujo )

Sudah mendarah daging di lingkup budaya kita yakni sebuah tataran “patriakhis”, sebuah tataran masyarakat  yang memandang sebelah mata terhadap eksistensi wanita. Keadaan ini mengusik hak-hak perempuan, yang kadangkala justru disemaikan oleh kaum perempuan itu sendiri. Paternalistik ini menyeruak kesegenap kehidupan dan sengaja dimunculkan dengan tujuan akhir melalui model-model penjinakaan.
Dunia periklanan sejak lama telah melakukan penjinakan terhadap peran wanita. sebagai contoh bila kita cermat melihat disepanjang jalan besar di Nusantara ini bahkan mendunia, papan reklame selalu melakukan ekplotasi peranan  wanita. Wanita dijadikan obyek, dengan kecantikannya hanya dipasangkan dengan Produk sebuah Ban Mobil. Iklan ini menempatkan wanita hanya pada tataran “seksis”, karena tidak ada korelasi sedikitpun antara ban mobil dengan kecantikan orang.  Bila kita melihatnya kurang cermat, iklan-iklan yang menyertakan wanita tadi dianggap sebagai keunggulan wanita yang berperan didunia media, namun secara hati-hati dapat dicermati bahwa ini adalah pembunuhan karakter dan peran.  Sisi lain terdapat gula-gula yang justru melibas peran wanita yang paling hakiki, yakni sebuah jabatan hadiah. Seorang isteri walikota menjadi ketua penggerak PKK tingkat kota dan kabupaten, dengan jabatan hadiah ini sudah identik gambaran sebuah penomorduaan wanita (subordinasi), dianggap penomorduaan karena untuk menduduki suatu jabatan startegis dikarenakan menjadi isteri seorang pejabat. Menerima jabatan bukan karena kehebatan dan prestasi yang dimilikinya, melainkan hadiah dari sang suami. Ini bentuk ketidakadilan yang tercipta secara terselebung, karena jabatan-jabatan hadiah merupakan startegi penjinakan peran, dengan peran baru tersebut, maka jaminan untuk menjadi alat legitimasi kekuasaan akan semakin kental. Artinya tidak mungkin terjadi sebuah kritik tajam muncul dari lembaga yang dipimpin oleh sang isteri, meskipun terjadi ketidakadilan gender.  Upaya untuk mengakhiri babak ketidakadilan terhadap wanita, yang masih bisa diharapkan adalah peranan institusi pendidikan dan media.
Pendidikan satu-satunya wahana yang diharapkan untuk menjadi wasit adil terhadap peranan gender, yakni sebuah peranan yang meletakkan pada proporsi yang sebenarnya, sebuah keadilan yang diterima sesuai dengan apa yang dilakukan   “ Justitia Cumutativa”.  
Kita sadar bahwa pendidikan adalah wahana cultural yang perannya untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan harkat dan martabat wanita, ternyata dengan tidak sengaja justru menjadi muara nuasa ketidakadilan. 

INSTUSI PENDIDIKAN DAN MEDIA MASA MENGKREASI KETIDAKADILAN
Tulisan Achmad Muthali’in dalam bukunya “Bias Gender dalam Pendidikan” sangat tajam menyoroti ketidakadilan itu. Ternyata banyak kreasi-kreasi yang menjinakan peran wanita dalam dunia pendidikan.  Seperti juga yang tertulis dalam buku “Potret Kesadaran Gender Orang Media” terbitan PSW- Pusat Studi Wanita Unair, yang menyoroti ketidak adilan orang media dalam melihat sosok wanita. Pada akhir tahun 2000 jumlah wartawan dari total jumlah wartawan di Indonesia hanya 12 %, ini adalah statistik yang mengambarkan realitas empirik yang perlu penelahaan. Dari sekian banyak penelitian yang dilaksanakan beberapa serpihan ketidakadilan dijumpai dalam penempatan peran. Barangkali dilatari pikiran bahwa wanita diberikan peran pada sektor domestik, maka untuk peran wartawan pos kriminal mengundang banyak kekawatiran. Pos-pos kriminal apalagi terkait dengan lembaga pemasyarakatan, dan pelacuran harus dihindari dari sentuhan wartawan wanita. Ketika pendidikan dan media masa menjadi harapan dan realitanya justru memiliki kontribusi yang kuat untuk menkreasi ketidakadilan  gender, maka pupuslah harapan ini.
Sungguh merupakan ancaman bagi wanita untuk menutut kesamaan hak yang semestinya kalau kedua institusi ini melakukan kreasi sesat. Melalui pendidikan akan terbangun proses internalisasi, apalagi bila diawali sejak usia dini, maka akan menjadi sebuah keyakinan yang akut.  Suatu kenyataan yang tidak terbantah bahwa banyak buku-buku teks pelajaran yang secara lugas mencipta ketidakadilan. Sebagai contoh seperti Tesis Achmad Muthalin yang telah menemukan bukti terdapat buku-buku SD yang menggambarkan  ketidakadilan tersebut dalam visualisasinya. Juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh oleh Astuti, Indarti, dan Sasriyani (1999), bahwa bias Gender juga terjadi dalam Buku Pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini menemukan dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dipergunakan di SD, SLTP dan di SMU.     

PERAN YANG SEHARUSNYA.
Mengawali suatu niatan yang terfocus agar ketidakdilan gender dapat dieliminasi adalah membangun pola pikir baru dalam dunia pendidikan, meredifinisikan kembali bahwa pendidikan tidak pernah membelah hak antara pria dan wanita.  Pendidikan mengangkat persamaan hak dan bergerak atas nama kejujuran.
Penormorduaan [subordinasi] terhadap wanita, justru melanggar “Pekem” pendidikan yang menempatkan pembebasan sebagai supremasinya, dari sikap dasar pendidikan ini, maka penelaahan terhadap produk-produk pendidikan harus dilakukan tera ulang. Mulai dari kurikulum sampai produk derivasinya, dilihat secara cermat adakah serpihan yang senagaja, terselubung, atau lainnya memilki nuansa ketidakadilan gender. Institusi pendidikan harus mengedepankan peran wanita pada porsi yang sebenarnya, bukan “paranoid latah” secara menggebu untuk membuat studi wanita tanpa tataran yang rasional. Upaya ini harus diawali dari perguruan tinggi seharusnya telah tumbuh lembaga studi yang menfocuskan pada persoalan-persoalan wanita, dengan berbagai renik-reniknya. Dengan studi yang mengkhususkan pada persoalan wanita diharapkan akan lebih memunculkan pola sikap yang lebih arif, disamping akan memperoleh informasi yang lebih akurat berbegai potensi wanita.   
Terkait dengan konstelasi kependudukan di Indonesia yang mayoritas adalah penduduk wanita, maka sudah seharusnya porsi wanita dalam setiap kesempatan memperoleh proporsi yang sebenarnya, namun tidak harus karena lebih mayoritas. Sungguh kurang bijak bila dari kalangan wanita menuntuk suatu qouta untuk anggota parlemen. Akan lebih bijak bila kalangan wanita secara terhormat membangun prestasi-prestasi yang hakiki untuk measuk ke araena yang bebes dari ketidakadilan.