Google

Wednesday, November 8, 2017

PENDIDIKAN DAN KEADILAN GENDER






Pendidikan dan Keadilan Gender
Djoko Adi Walujo )

Sudah mendarah daging di lingkup budaya kita yakni sebuah tataran “patriakhis”, sebuah tataran masyarakat  yang memandang sebelah mata terhadap eksistensi wanita. Keadaan ini mengusik hak-hak perempuan, yang kadangkala justru disemaikan oleh kaum perempuan itu sendiri. Paternalistik ini menyeruak kesegenap kehidupan dan sengaja dimunculkan dengan tujuan akhir melalui model-model penjinakaan.
Dunia periklanan sejak lama telah melakukan penjinakan terhadap peran wanita. sebagai contoh bila kita cermat melihat disepanjang jalan besar di Nusantara ini bahkan mendunia, papan reklame selalu melakukan ekplotasi peranan  wanita. Wanita dijadikan obyek, dengan kecantikannya hanya dipasangkan dengan Produk sebuah Ban Mobil. Iklan ini menempatkan wanita hanya pada tataran “seksis”, karena tidak ada korelasi sedikitpun antara ban mobil dengan kecantikan orang.  Bila kita melihatnya kurang cermat, iklan-iklan yang menyertakan wanita tadi dianggap sebagai keunggulan wanita yang berperan didunia media, namun secara hati-hati dapat dicermati bahwa ini adalah pembunuhan karakter dan peran.  Sisi lain terdapat gula-gula yang justru melibas peran wanita yang paling hakiki, yakni sebuah jabatan hadiah. Seorang isteri walikota menjadi ketua penggerak PKK tingkat kota dan kabupaten, dengan jabatan hadiah ini sudah identik gambaran sebuah penomorduaan wanita (subordinasi), dianggap penomorduaan karena untuk menduduki suatu jabatan startegis dikarenakan menjadi isteri seorang pejabat. Menerima jabatan bukan karena kehebatan dan prestasi yang dimilikinya, melainkan hadiah dari sang suami. Ini bentuk ketidakadilan yang tercipta secara terselebung, karena jabatan-jabatan hadiah merupakan startegi penjinakan peran, dengan peran baru tersebut, maka jaminan untuk menjadi alat legitimasi kekuasaan akan semakin kental. Artinya tidak mungkin terjadi sebuah kritik tajam muncul dari lembaga yang dipimpin oleh sang isteri, meskipun terjadi ketidakadilan gender.  Upaya untuk mengakhiri babak ketidakadilan terhadap wanita, yang masih bisa diharapkan adalah peranan institusi pendidikan dan media.
Pendidikan satu-satunya wahana yang diharapkan untuk menjadi wasit adil terhadap peranan gender, yakni sebuah peranan yang meletakkan pada proporsi yang sebenarnya, sebuah keadilan yang diterima sesuai dengan apa yang dilakukan   “ Justitia Cumutativa”.  
Kita sadar bahwa pendidikan adalah wahana cultural yang perannya untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan harkat dan martabat wanita, ternyata dengan tidak sengaja justru menjadi muara nuasa ketidakadilan. 

INSTUSI PENDIDIKAN DAN MEDIA MASA MENGKREASI KETIDAKADILAN
Tulisan Achmad Muthali’in dalam bukunya “Bias Gender dalam Pendidikan” sangat tajam menyoroti ketidakadilan itu. Ternyata banyak kreasi-kreasi yang menjinakan peran wanita dalam dunia pendidikan.  Seperti juga yang tertulis dalam buku “Potret Kesadaran Gender Orang Media” terbitan PSW- Pusat Studi Wanita Unair, yang menyoroti ketidak adilan orang media dalam melihat sosok wanita. Pada akhir tahun 2000 jumlah wartawan dari total jumlah wartawan di Indonesia hanya 12 %, ini adalah statistik yang mengambarkan realitas empirik yang perlu penelahaan. Dari sekian banyak penelitian yang dilaksanakan beberapa serpihan ketidakadilan dijumpai dalam penempatan peran. Barangkali dilatari pikiran bahwa wanita diberikan peran pada sektor domestik, maka untuk peran wartawan pos kriminal mengundang banyak kekawatiran. Pos-pos kriminal apalagi terkait dengan lembaga pemasyarakatan, dan pelacuran harus dihindari dari sentuhan wartawan wanita. Ketika pendidikan dan media masa menjadi harapan dan realitanya justru memiliki kontribusi yang kuat untuk menkreasi ketidakadilan  gender, maka pupuslah harapan ini.
Sungguh merupakan ancaman bagi wanita untuk menutut kesamaan hak yang semestinya kalau kedua institusi ini melakukan kreasi sesat. Melalui pendidikan akan terbangun proses internalisasi, apalagi bila diawali sejak usia dini, maka akan menjadi sebuah keyakinan yang akut.  Suatu kenyataan yang tidak terbantah bahwa banyak buku-buku teks pelajaran yang secara lugas mencipta ketidakadilan. Sebagai contoh seperti Tesis Achmad Muthalin yang telah menemukan bukti terdapat buku-buku SD yang menggambarkan  ketidakadilan tersebut dalam visualisasinya. Juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh oleh Astuti, Indarti, dan Sasriyani (1999), bahwa bias Gender juga terjadi dalam Buku Pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini menemukan dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dipergunakan di SD, SLTP dan di SMU.     

PERAN YANG SEHARUSNYA.
Mengawali suatu niatan yang terfocus agar ketidakdilan gender dapat dieliminasi adalah membangun pola pikir baru dalam dunia pendidikan, meredifinisikan kembali bahwa pendidikan tidak pernah membelah hak antara pria dan wanita.  Pendidikan mengangkat persamaan hak dan bergerak atas nama kejujuran.
Penormorduaan [subordinasi] terhadap wanita, justru melanggar “Pekem” pendidikan yang menempatkan pembebasan sebagai supremasinya, dari sikap dasar pendidikan ini, maka penelaahan terhadap produk-produk pendidikan harus dilakukan tera ulang. Mulai dari kurikulum sampai produk derivasinya, dilihat secara cermat adakah serpihan yang senagaja, terselubung, atau lainnya memilki nuansa ketidakadilan gender. Institusi pendidikan harus mengedepankan peran wanita pada porsi yang sebenarnya, bukan “paranoid latah” secara menggebu untuk membuat studi wanita tanpa tataran yang rasional. Upaya ini harus diawali dari perguruan tinggi seharusnya telah tumbuh lembaga studi yang menfocuskan pada persoalan-persoalan wanita, dengan berbagai renik-reniknya. Dengan studi yang mengkhususkan pada persoalan wanita diharapkan akan lebih memunculkan pola sikap yang lebih arif, disamping akan memperoleh informasi yang lebih akurat berbegai potensi wanita.   
Terkait dengan konstelasi kependudukan di Indonesia yang mayoritas adalah penduduk wanita, maka sudah seharusnya porsi wanita dalam setiap kesempatan memperoleh proporsi yang sebenarnya, namun tidak harus karena lebih mayoritas. Sungguh kurang bijak bila dari kalangan wanita menuntuk suatu qouta untuk anggota parlemen. Akan lebih bijak bila kalangan wanita secara terhormat membangun prestasi-prestasi yang hakiki untuk measuk ke araena yang bebes dari ketidakadilan.
 

INSPIRATION TEACHING ERA DISRUPTION

Kita kenal dengan era Disruption tepatnya juga disebut sebagai era penggoda, di era ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi atau dengan kata lain kemajuan teknologi utamanya teknologi informasi maka memberikan dapak disegala bidang, teramsuk bidang pembelajaran.. Profresionalisme seorang-orang sekarang harus lebih komprehensif, dan pendekatannya harus beranjak dari yang bersifat atomistik menuju yang lebih holistik. Intinya dalam era ini sangat memulyakan eksistensi manusia, maka manuasi haru menempati tahta terhormat dalam kehidupan. Era ini menyarankan seorang profesionalis Guru harus menjadi insan yang penuh empati dan simpati. oleh karenanya segala bentuk tindakan tidak boleh lepas dari cara-cara memanusiakan manusia.
Berangkat dari pemikiran itu maka saya angkat kembali tulisan yang lama yang dianngap dapat menjawab tantangan era disruption itu. Adpun tulisan itu saya angkat utuh di blog ini. Karya itu merupakan karya yang pernah dibentangkan pada acara Dies Natalis Universitas Adi Buana Surabya, selangkapnya sebagai berikut.

MENJADI PENDIDIK YANG EMPATI DAN INSPIRATIF
Disampaikan pada :
06 April 2016
DALAM RANGKA DIES NATALIS 45 – LUSTRUM IX
UNIVERSITAS ADI BUANA SURABAYA

Guru itu merayu, bukan memaksa
Guru  itu pelayanan sejati dan mulia,
Guru membuat senang, menghindari caci maki
Guru membangun hati, sehingga apa saja yang disampaikan teresapi.
Lalu Guru Inspiratif:
 Jika dan jika, merayu, member layanan, membuat senang, membangun hati

Oleh;
djoko adiwalujo
[adiwalujo@gmail.com]

PENGANTAR

Guru yang lelap tidur, kurang sadar jika dirinya dalam sebuah perbincangan, dicibir dan tiada rasa kuatir.  Guru sebagai pendidik dituntut meggunakan “mesin dahsyatnya”, berupa otak yang cerdik, hati mulia untuk selalu dan selalu berkreasi, inovasi ke dalam ranah yang penuh empati dan inspirasi.
Pembelajaran dengan segenap metodenya, yang beriringan dengan modelnya penyajian, adalah salah satu serpihan teknologi yang harus dimodali khasanah Inspirasi. Kini di altar pendidkan muncul karya-karya unggul, konsekuensinya adalah pentinya pola sikap isnpiratif, tanpa inspirasi yang memadai semuanya hanya sebuah teori.
         Saat ini dalam proses pembelajaran, mulai dari paradigma, model dan penerapannya,  misalnya dari Quantum Teaching, Quantum Learning, Cooperative Learning, hingga Contextual Teaching Learning. Atu model-model lain yang kadang bikin pening, kadang pula juga mengundang tanggapan miring, Tanpa adanya daya suai yang tinggi, tetap saja menjadi pembelaran yang membeku. Ada Conditio Sine Quanon atau suatu keharusan yang tidak perlu penawaran, guru harus berubah, karena sosok guru yang senang pada perubahan atau kebaruan (Novelty) adalah guru yang diterima zaman. Guru yang enggan berubah akan mudah kehilangan roh mulia sebagai pendidik, karena sejatinya guru lahir sebagai agen perubahan. (agent of change)

GURU INSPIRATIF CENDERUNG  KREATIF
CIRI GURU yang INSPIRATIF itu, guru yang memiliki:
  • Kelincahan mental [mental agility]
  • Berfikir ke segala arah [divergent thinking]
  • Fleksibilitas konseptual [conceptual flexibility]
  • Originalitas [originally]
  • Lebih kearah kompleksitas daripada simplisitas
  • Latar belakang yang merasang [stimulating background]
  • Kecakapan ganda [multiple skills]

CIRI-CIRI PENDAMPING
1.       Kemampuan kerja keras [capacity for hard work]
2.      Berpikir mandiri [independent judgment]
3.      Tidak putus asa [resilience]
4.      Mampu berkomunikasi [good communicators]
5.      Lebih tertarik pada konsep daripada  masalah masdalah yang sumir [interested more in concepts than in details]
6.      Keinginan tahu [intellectual curiosity]
7.      Adanya rasa humor dan fantasi [sense of humor and fantasy]
8.     Mencari unsure yanbg menarik [interesting]
9.      Arah hidup yang jelas [sense of density/sense of mission]

SITUASI YANG KONDUSIF MELAHIRKAN SIKAP YANG INSPIRATIF
  1. Kejujuran [honesty]
  2. Penghargaan pada mutu [appreciation of quality]
  3. Keinginan tahu [intellectual curiosity]
  4. Ambisi yang sehat [healthy ambition]

Kejujuran :
Sikap yang inspiratif memerlukan dukungan ini. Alasan yang mendasar karena ada kecenderungan orang dengan mudah meniru dan menggandakan/mengemitasi. Originalitas hatrus di proteksi.

Penghargaan pada mutu
Penghargaan pada mutu adalah ladang subur tumbuh kembangnya  kreativitas, tanpa adanya penghargaan mutu orang cenderung menarik diri untuk berjalan pada kondisi normal, tanpa melakukan lompatan-lompatan  ke depan.
Imaginasi akan berkembang pada koridor ini, sehingga orang tidak akan melakukan 


Keinginan tahu:
Seorang-orang yang kreatif mempunyai keinginan tahu yang tidak habis-habisnya, ibarat pantai pantang surut airnya. Keinginan tahu selalu jadi pintu gerbang bagi orang berbuat yang menggoncang dunia.

Ambisi yang sehat.
Tidak hanya sekedar ingin tapi sudah bagian dari hidup seorang yang memiliki ambisi sehat, yang secara terus menerus menambah deretan keinginan. Ambisi sehat bagaikan air bah yang sulit untuk dibendung .


Guru EMPATI ADALAH GURU MENYEGARKAN
fun way to support the objective of presentation
 [Svendsen, 1996].

        Bahkan hampir dipastikan semua aktivitas manusia memerlukan kehadiran suasana yang menyegarkan. Guru harus membekali dirirnya untuk membuka suasana segar dalam pembelajaran. Kelak jadilah Guru yang berpatron “pelepas dahaga”. Mengapa pelepas dahaga? Setidaknya ada dua maksud, Guru dalam praktik profesionlnya  bertindak sebagai “pelepas dahaga”:
Pertama: mengarahkan atau memfocuskan setiap pembicaraan harus menarik perhatian, menyenangkan bukan menyengsarakan.
Kedua:membuat  lawan bicara diberbagai suasana saling mengenal dan akan menghilangkan jarak mental sehingga suasana menjadi benar-benar rileks, cair dan mengalir. Untuk mencapai itu, harus menjadikan diri kita  sebagai”soft drink”. Guru  harus mampu bertindak mennjadi 7-Up, Fanta dan Coca-Cola.



JIKA Guru  SEPERTI 7-UP

           7-up itu lebih tersosialisasi sebagai minuman segara penahan dahaga. Namun 7-Up dapat dijadikan sebuah jargon pendongkrak semangat. Jika gemud mampu melihat dirinya sebagai manusia pembangkit semangat, dan mampu berperan sebagai pelepas dahaga sungguh luar biasa. Lalu apa hubungannya dengan 7-up itu? 7- Up itu dimaksud mendongkrat pola komunikasi gemud yang harus di-“UP”.  Semuanya terbentang berikut: 
  1. Wake Up [bangun]: Tidak peduli beberapa banyak kali Anda gagal, tetapi jika Anda lebih banyak bangun dan memulai lagi Anda akan sukses
  2. Dress Up [berhias]: Kecantikan dari dalam jauh lebih penting daripada sekedar hiasan luar sementara. Milikilah mentalitas berkelimpahan, hasil dari suatu harga diri dan rasa aman yang mendalam. Mentalitas ini menghasilkan kesediaan untuk berbagi penghormatan, laba dan tanggung jawab
  3. Shut Up [berhenti bicara]: berhentilah berbicara tentang kesuksesan masa lalu. Sudah saatnya menfokuskan diri untuk kesuksesan masa depan
  4. Stand Up [berdiri]: Berdirilah teguh pada keyakinan awal bahwa Anda pasti berhasil
  5. Look Up [Pandanglah]: Saat peresmian Disney Land, seorang wartawan bertanya kepada isteri Walt Disney, "Bagaimana perasaan bapak kalau melihat impiannya terlah menjadi kenyataan dengan dibukanya Disney Land ini ?" Isteri walt Disney menjawab,"Ia telah melihat ini semua terjadi sebelum proyek ini terbentuk." Lihatlah semua impian Anda dalam imajinasi Anda seakan-akan semuanya telah terjadi
  6. Reach Up [capailah]: Capailah sesuatu yang lebih tinggi dari prestasi sebelumnya karena itumenandakan bahwa Anda memang bertumbuh
  7. Lift Up [naikkan]: Naikkan semua impianmu dalam bentuk doa ucapan syukur seakan-akan semuanya telah terjadi.
Ciri Guru yang tidak segar cenderung dan cenderung menjadi manusia kadaluarsa
  • Berpikir bahwa dirinya bukan sumber solusi
  • Menempati posisi/peran sebagai korban orang lain
  • Menempati posisi/peran sebagai korban perubahan
  • Tidak memilki tujuan yang jelas
  • Cenderung menolak fakta, lari dari kenyataan, mudah konflik, tidak memiliki komitmen dan sangat mudah ingkar janji
Ciri Guru yang segar Proaktif:
  • Memiliki tujuan yang jelas dan memilki komitmen untuk memperjuangkan
  • Memiliki nitan dan komitmen yang kuat
  • Menempati posisi/peran sebagai penentu keputusan
  • Mampu mengantisipasi perubahan
  • Mampu menjalin hubungan dengan orang lain secara harmonis dan sling pengertian
  • Menempatkan diri sebagi sumber solusi atas masalahnya, atau masalah orang lain
MENAIKKAN LEVEL DARI GURU “GERSANG”
MENJADI GURU “SEGAR”
Dalam menaikkan level tersebut, harus dibarengi dengan strategi mengemas tejuan dengan baik. Kemasan itu disebut dengan S-M-A-R-T.  Banyak orang menyebutnya “Formula SMART” [Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Time Scale]
  • Specific: adalah jelas, utuh, dan berbentuk sebuah simpulan tunggal. Jika di metaporakan seperti kita sedang menedang bola dengan sasaran spesifik gawang lawan.
  • Measurable: adalah memiliki ukuran yang berberbentuk padanan fisk agar kita mudah mengukur. Artinya harus lebih oprasional
  • Attainable; adalah memilki kelayakan rasional untuk kita capai. Kalau langkah kita sudah sampai pada anak tangga ke tiga, tentu sangat mask akal kalau kita punya keinginan naik ke anak tangga keempat.
  • Relevant; adalah memiliki tingkat relevansi yang tinggi dengan kondisi diri kita, guna membangkitkan motivasi dalam diri kita
  • Time Scale, adalah memiliki jenjang waktu [tahapan] untuk mencapainya, dan bukan sekaligus.
GURU SEPERTI FANTA:
Sementara ada yang mengatakan, Saat tepat untuk berekspresi diri dan mencari jati diri, mampu mencairkan suasana setiap aktivitasnya, piawai menyampaikan pesan dan selalu membuat suasana segar.
Guru selalu ria dan berfantaria, apa fanta-ria itu?
Jawabnya Guru harus  seperti Fanta.

F
FRIENDLY:
        Sebuah formula yang menakjubkan jika Guru memodali dirinya dengan “Friendly Formula’, yang terdiri dari:
  • Look Friendly
  • Feel Friendly
  • Sound Friendly
Look Friendly: Guru  yang memiliki performa yang menyenangkan, bersahabat, kasih sayang. Performa ini hadir tidak hanya pada berkomunikasi berlangsung, namun dimana berada, sedang kegiatan apa saja, harus ber-FANTA-ria. Tampat bersahabat, bukan tampak penjahat
Feel Friendly: Lemah lembut, komunikasi hati, mudah melepas maaf, obral pujian, adalah indikasi Guru yang punya “rasa”, cerdas budi dan cerdas hati.
Sound Friendly: Berkata dengan halus, lebih bertindak cerdas, rendah hati. Tidak pernah melepas kata-kata yang penuh dengan sinisme, justru sebaliknya selalu menggunakan kata-kata yang menyejukkan.

A

ATTENTION/ PERHATIAN:
Strategi ini menekankan pada suatu wilayah afeksi yakni bagaimana Guru memberikan atensinya terhadap siapa saja. Bentuk sederhana ketika seorang-orang menghafal nama orang lain. Atensi diberikan ketika kondisi yang ekstrem, misalnya pada saat yang bahagia atau pada saat yang kurang menyenangkan. Adapun bentuk atensi dapat berupa verbal atau kata-kata, atau hadiah. Atensi juga dapat diwujudkan dalam penguatan [reinforcement] ketika siapa saja.
N
NEED:
Manusia yang memiliki kemampuan untuk menanggapi adalah manusia yang mampu mengendalikan kehidupannya, sehingga dia mampu menentukan tindakannya sendiri. Terkait dengan jati diri sebagai Geru, maka dalam membangun citranya sedikitnya, ada lima kemampuan yang harus dikantongi. 
 Kemampuan-kemampuan itu adalah:
q  Ability to fact [kemampuan memahami fakta]
q  Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan]
q  Ablity to evaluation [kemampuan mengevaluasi]
q  Ability to analysis [kemampuan analisis]
q  Ablity to response [kemampuan menanggapi]. adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis]
T
TRUST
1.       Kemampuan dalam memahami kompetensi [competency]
2.      Kemampuan untuk meciptakan visi [Vision] sebagi harapan dan cita-cita
3.      Kemampuan untuk memberikan makna pada hidupnya yang diwujudkan dalam bentuk  pemaknaan misi [Mission] hidupnya
4.      Kemmapuan menggunkan kompetensinya untuk mewujudkan visi dan misinya dalam bentuk strategi yang dijalankan
5.      Kemampuan  menterjemahkan strategi sebagai aksi.

A
ACTION/KERJA NYATA:
Sebuah keteladanan adalah contoh nyata yang mampu menggerakkan semangat anak didiknya. Keadaan ini harus disadari bahwa dalam manajemen proses pembelajaran seorang guru memberikan keteladanan, dan penggerak munculnya interaksi yang dinamis. Dalam interaksi tidak pernah lepas dari persoalan konflik, karena konflik tumbuh dan berkembang dalam organisasi. Spektrum perkembangannya seirama dengan perkembangan organisasi. Konflik inilah yang perlu dikendalikan, karena tujuan akhir pengendalian konflik adalah terciptanya sebuah kepuasan. Kepuasan dalam proses pembelajaran selalu diawali dengan keinginan menghilangkan hambatan interaksi, sehingga nir penghambat [zero defect/ nir kecacatan, zero complain/ nir keluhan, dan zero accident/ nor kecelakaan.
Indikasi Guru yang Fanta:
  1. Visualizing. Seorang Guru visioner mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dan kapan hal itu akan dicapai
  2. Futuristic Thinking. Seorang Guru Visioner tidak hanya memikirkan kondisi saat ini, tetapi juga memikirkan kondisi yang diinginkan pada masa yang akan datang
  3. Showing Fore sign. Seorang Guru Visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa depan. Dalam membuat rencana tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi juga mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi, dan factor lain yang dapat mempengaruhi rencana
  4. Proactive Planning. Seorang Guru Visioner menetapkan sasaran dan startegi yang spesifik agar bisa mencapai sasaran tersebut dengan baik serta mampu mengantisipasi atau mempertimbangkan berbagai rintangan potensial dan melakukan pengembangan rencana darurat untuk menanggulangi hambatan
  5. Creative Thingking. Seorang Guru visioner dalam menghadapi tantangan berusaha mencari alternative pemecahannya dengan memerhatikan isu, peluang, dan masalah
  6. Taking Risk, Seorang Guru visioner berani mengambil risiko sekecil apapun, dan menganggap kegagalan sebagai peluang bukanya sebuah kemunduran
  7. Processing Alignment. Seorang Guru Visioner mampu menghubungkan sasaran dirinya dengan sasaran organisasi
  8. Coating Alignment. Seorang Guru Visioner sadar bahwa dalam rangka mencapai tujuan, dia harus bekerja sama dalam menciptakan hubungan yang harmonis, baik kedalam maupun keluar
  9. Continuous Learning. Seorang Guru visioner selalu mampu mengikuti pelatihan dan pendidikan secara teratur, dalam rangka mengembangkan profesionalitas dan memperluas pengethauna, serta memberikan tantangan berpikir dan mengembangkan imajinasi
  10. Embracing Change Seorang Guru Visioner tahu bahwa perubahan adalah suatu bagian terpenting bagi pertumbuhan dan pengembangan kemampuan dirinya. Ketika ada perubahan yang dinginkan atau yang tidak diantisipasi sebelumnya, Seorang Guru visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat memberikan manfaat ari peerubahan tersebut.
GENERASI MUDA  KOK KAYAK COCA-COLA
Coca-Cola memang nama merk soft drink, namun punya makna lain sebagai akronim yang dijadikan untuk mencandra popularitas seorang kandidat Walikota di Jerman. Kata itu diambil dari sebuah buku dengan judul “Memenangkan Pemilu ! [Petunjuk Praktis bagi Kandidat”, karya Dr. Rainer Adam-Penerbit : Friedrich Naumann Stiftung.


Bermaksud untuk mencandra seorang Guru.
COCA COLA:
Sebuah terminology baru, karena coca-cola selama ini identik dengan sebuah minuman bersoda asal negeri Paman Sam, ternyata di Jerman digunakan sebagai kriterium dari seorang-orang yang maju sebagai kandidat Gubernur atau Walikota. Kalau dicermati dan sedikit di renungkan, maka Generasi Muda  juga termasuk dalam pusaran ini. Seorang Guru harus COCA-COLA.
CO, dari “Competence” atau kompeten, artinya seorang gemud harus memiliki pengalaman yang pas, mempuntai kualitas kehidupan dan kemampuan melaksanakan rencana dengan seksama, efektif dan efisien.
CA, dari “Charisma” atau karisma, seorang Guru sebaiknya memiliki kepribadian yang mampu menggerakkan orang.
CO, dari “Communication” atau komunikasi, seorang Guru harus memiliki kemampuan komunikasi dengan orang-orang dari berbagai spectrum/lapisan.
Seorang Gemud harus mampu menjembatani serta mempertemukan perbedaan-perbedaan pendapat. Trampil berbicara didepan public, menguasai bahasa tubuh [gesture] dan seni ekspresi.
LA, dari “LANDSCAPE” atau “wawasan”, seorang Guru harus memiliki wawasan yang luas terutama yang berkaitan dengan dunia dirinya yang dikembangkan nalar dan kepribadiannya


PENUTUP
MERUBAH MENTALITAS YANG BEKU:

            Hadirnya sesuatu yang baru, serta merta membelah sikap mental seorang-orang, ada yang setuju, ada yang pula menggerutu. Sosialisasi kalau ini memiliki maksud untuk menjebatani belahan sikap tadi. Seperti lahirnya “PEMBELAJARAN YANG INSPIRATIF”, yang kini akan kita dicerna bersama, kita kunyah-kunyah berjama’ah. Kadang mengundang pertanyaan yang sangat menyeramkan, apakah selama ini pembelajaran tidak inspiratif? Apakah pembelajaran yang kita lakukan  selama ini sia-sia?. Tentu itu tidak benar. Pembelajaran yang kita lakukan sudah benar, namun  kemajuan teknologilah yang menstimuli kita untuk beradaptasi, artinya mengadaptasikan proses pembelajaran sesuai zaman.
         Bagaimana dengan profesi kita?, Tentunya yang harus kita kedepankan saat ini adalah kerelaan kita untuk berubah.
Model pembelajaran, adalah sebuah metodologi, atau sarana, lebih kasar kita sebut “alat” atau “piranti”. Guru adalah seorang profesionalis yang menjalankan fungsi-fungsinya dengan menggunakan metodologi, kendatipun aturan telah dicanangkan, namun sikap mental masih pada pusaran yang rentan berubah, maka segalanya menjadi  kalah dan “mentah”
Kuncinya adalah, saat ini kita harus berubah. Dari paradigma lama menuju yang baru. 

RUJUKAN YANG DIGUNAKAN

Charles Panati [1988]. Breakthroughs
David Champbell [1965]. Take the road to creativity get your dead end, Argus Communications, 7440 Natchez Avenue, Niles, Illinois 60648, USA
Herman JP. Maryanto(2008), 5 Penyakit Mematikan Profesi Guru. Refleksi Proses Pembelajaran, PT. Sentra Jaya Utama. Kelapa Gading, Jakarta.
Maswan dan Sulaiman Sahlan[1989]. Mengungkap tabir“ Imajinasi dan Ide Manusia” Penerbit Sinar Baru Bandung.
--------------------------------[1989]. Multi dimensi sumber kreativitas manusia Manusia Penerbit Sinar Baru Bandung.